Jumat, 10 Mei 2013

Mengejek Foto Plesetan

credit
Beberapa waktu yang lalu, pas lagi buka facebook pakai handphone, liat statusnya uncle lozz yang isinya tentang keengganan uncle tentang kebiasaan jelek ejek-mengejek orang tua. Habis ngasih komen di status uncle, eh, dianya malah ngasih saya sebuah link tulisan dia, kalau enggak salah itu tulisan sekitar satu tahun yang lalu.

Isi tulisan uncle lozz tentang ketidaksukaan dia tentang sebuah foto wanita tua yang di share di facebook. Kok uncle nggak suka? Hm, pastinya enggak suka dong kalau fotonya itu adalah foto wanita tua yang sudah diedit dan diberi pakaian seksi, lalu dijadikan bahan guyonan. Info lengkapnya tentang itu, bisa baca di langsung di sini yah.

Setelah baca statusnya uncle Lozz, saya jadi ingat dengan masalah siswa saya yang terjadi seminggu sebelum UN kemarin. Sebut saja namanya Diana. Kondisi keluarga yang miskin menempa dia menjadi remaja yang tidak lemah, pintar dan tegar. Tapi hari itu, dia menemui saya dengan menangis dan jongkok lemas di samping meja kerja saya. Setelah saya tanya, dia menjawab dengan suara terbata-bata, kalau ada sebuah foto wanita seksi yang mirip dengannya diupload dari akun facebooknya. Teman-temannya menanyakan kebenaran foto itu. Ada beberapa yang ragu, ada beberapa yang percaya kalau itu bukan Diana, tapi ada juga yang menggosipkan dia.

Ya Allah, masalah apa lagi ini? Seminggu sebelum UN pula.

Dalam sesi wawancara hari itu, dia menyampaikan kalau fotonya sudah dia hapus dan password facebook dan email sudah dia ganti. Saya hanya diam, tak bisa memberikan solusi apa-apa padanya karena dia sudah melakukan sendiri langkah-langkah pengamanan pada akun sosial media miliknya. Hanya penguatan hati yang saya berikan supaya masalah ini tidak mengganggu UN-nya nanti.

Dua hari sebelum UN, saya tanyakan lagi perkembangan masalahnya. Dia sampaikan kalau kejadian itu karena dia teledor saat menyimpan alamat email dan password yang dia gunakan untuk login di facebook sehingga ada orang lain yang menemukan alamat email itu dan mengupload foto seksi itu di facebooknya.

Ah, hanya karena sebuah keteledoran yang sering saya ingatkan pada siswa-siswa saya. Jujur, saya kecewa saat itu karena Diana teledor, tak mengindahkan peringatan dari saya. Tapi ya, gimana lagi? Masa mau saya bentak?

Dalam masalah Diana, yang saya acungi jempol adalah saat dia tegar menghadapi cercaan dan kecurigaan teman-temannya tentang foto itu. Diana cerita, kalau dia sudah menjelaskan (bahkan sampai menangis di depan teman-temannya) kalau itu bukan fotonya. Yang membuat dia semakin menangis keras saat menemui saya adalah karena rasa tidak percaya teman-temannya dan berujung pada mengejek dia.

Ya, mengejek.

Sepertinya aktivitas mengejek sekarang ini menjadi sebuah budaya yang tak lagi perlu disikapi serius. Sehingga banyak orang yang beranggapan kalau mengejek itu adalah hal yang biasa dan enggak perlu-perlu amat diseriusi.

Masalah Diana dan cerita dari uncle Lozz, menjadi menarik bagi saya karena dua hal. Foto di akun sosial media yang 'disalahgunakan' dan aktifitas mengejek orang lain. Itu bikin saya gregetan tau!

Bukan hak kita untuk mengupload foto yang tidak sesuai dengan diri kita, seperti pada cerita uncle Lozz. Bukan hak kita untuk usil mengupload foto yang mana foto itu bukan foto kita di akun yang kita jebol, seperti yang terjadi pada Diana. Dan bukan hal yang harus dijadikan bahan ejekan saat 'foto-foto' menjadi sasaran niatan tidak baik orang lain.

Gimana coba saat kita jadi orang yang mendapat masalah seperti itu? Gimana coba perasaan keluarga kita saat tahu tentang masalah ini? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu, bikin hati miris!

Saya enggak tahu, apakah masalah seperti ini bisa dikategorikan sebagai kejahatan atau tidak. Tapi, cobalah berempati jika ada masalah seperti ini terjadi pada orang terdekat anda. Bisa dengan tidak mencurigainya berlebihan, tidak mengejeknya, menguatkan hatinya atau membantunya menyelesaikan masalahnya. Itu lebih baik. Karena saya sendiri yakin kok, setiap manusia itu memiliki kebaikan dalam dirinya.

Itu saja!

16 komentar:

  1. Kalau ndak salah sih sekarang sudah bisa 'dilarikan' ke kategori kejahatan sih.
    tapi memang benar, empati masyarakat sudah sangat minim. Rasanya kasus bully-ing dan generalisasi negatif gampang mengalir gitu saja

    BalasHapus
  2. @mbak hana. saya pun sangat setuju!! jangan ah kalau yang seperti kasus di atas :)

    @ikurniawan. saya pun merasa seperti itu. banyak siswa saya, yang menganggap kalau bullying atau yang berbau ketersinggungan sosial itu adalah hal yang wajar-wajar saja. malah mereka bilang kalau itu adalah guyonan. hohoho, lha yang enggak guyonan malah seperti apa?

    BalasHapus
  3. aku juga sgt gak setuju mb kl foto dijdkan bhn ejekan gitu..dan mirisnya ini srg bgt dijumpai di media sosial.. kyknya byk org mulai kurang bs saling menghargai..

    BalasHapus
  4. dan mimi pernah jg jadi korban,,meski tanpa hijab, untung msh pakaian lengkap. hiikz

    BalasHapus
  5. @mama enny mamito. dan kita harus cari cara untuk bisa meningkatkan aktifitas saling menghargai ini, mbak. kalau dari ucapan ajah, sepertinya bakal nggak bisa bertahan lama :)

    @mama mimi RaDiAl. ya Allah, pasti sakit hati sekali ya, mbak.. tapi, tetap tabah dan berfikir jernih, pasti akan menyelesaikan sakit hati itu :)

    BalasHapus
  6. hemm betul itu mb..kadang juga heran sos med yang dipakai untuk mengintimidasi, perang opini ataupun mengeluarkan hal-hal yang enggak pantas. padahal sos med bisa disalurkan untuk hal-hal positif kan?

    BalasHapus
  7. @nomitasani. sebegitu besarnya pengaruh sosial media dikalangan anak muda, ya.. apa karena kita tinggal ketik ajah, jadinya asal-asalan ngomongnya di sosmed? apa karena kita nggak saling hadap-hadapan, jadinya lebih nyaman mengintimidasi orang lain? entahlah,

    BalasHapus
  8. Setuju, yah sosmed dipergunakan sebaik-baiknya. Jangan sampe jadi ladang dosa :)

    BalasHapus
  9. setuju banget mba, tanpa disadari mengejek memang sdh menjadi budaya dan dianggap wajar...peringtan utk para ortu agar mendidik anaknya dg empati dan akhlak yg baik

    BalasHapus
  10. Fiuhh..miris baca kasus diana, sedih :(

    BalasHapus
  11. @nova. sayangnya, banyak teman-teman yang belum menyadari itu. harus didorong untuk lebih berempati

    @ummi. bener mbak, orang tua harusnya lebih giat lagi mengajarkan anaknya untuk berempati kepada sesama, peduli dengan sesama, menghargai juga :)

    @dewi. iyaaa.. miris memang. :(

    BalasHapus
  12. Maaf baru mampir sini mbak Rohma, baru pulang sih dari dolan hehehe

    menurut saya tiada aturan main di FB, tapi mungkin nurani dan unggah ungguh lah yang harus jadi filter apapun saja yang kita lakukan saat bermain Facebook.

    BalasHapus
  13. @uncle lozz. betul uncle, memang yang menjadi pengawasan dan pembenteng diri adalah unggah-ungguh yang kita punya :)

    BalasHapus
  14. Pada hakikatnya ...
    berurusan dengan dunia maya yang kadang "anonimous" (tak bertuan) ini memang harus hati-hati ...

    Dan ditambah lagi ... di dunia manapun ... nyata maupun maya ... integritas harus senantiasa dikedepankan ...

    Dengan cara apa ?
    Dengan cara ... Tidak Bohong ... Tidak Nyontek ... Tidak Jorok !!!

    Salam saya

    BalasHapus
  15. @om nh. bener om.. aku rasa, tidak hanya didunia maya saja. di dunia nyata juga ya.. karena ini akan mempengaruhi banyak hal dalam hubungan sosial tiap manusia :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Silahkan memberikan komentar dengan bahasa yang sopan ^_^